HARI
PERTAMA – PERJALANAN JAKARTA KE SOLO
Pada hari rabu, 21 Oktober 2015 rombongan murid kelas 8
SMP Labschool Jakarta sudah mulai berdatanga di pintu
utara Stasiun Gambir sejak sekitar pukul 17.00. Rombongan yang sudah datang
tidak langsung berkumpul melainkan menunggu murid lainnya datang.
Pada pukul 18.30 murid-murid yang telah datang semua ke
stasiun gambir dibariskan sesuai kelas. Dikarenakan oleh banyaknya murid yang
tidak disiplin, proses ini memakan cukup banyak waktu. Wali kelas membagikan
tiket kereta api setelah barisan telah rapi. Kami naik kereta Argo Lawu (kelas
eksekutif). Lalu kami diberikan pembekalan singkat tentang peraturan di kereta.
Rombongan murid juga diberikan waktu untuk sholat, ke kamar mandi dan istirahat
sejenak sambil menunggu kereta.
Menjelang datangnya kereta, yaitu sekitar pukul delapan
malam, barisan murid-murid yang sedang menunggu kereta diberdirikan dan
berjalan dengan rapi kearah loket pengecekan tiket dan identititas. Ini
dimaksudkan agar identititas yang tertera di karcis sesuai dengan data aslinya.
Murid-murid disuruh untuk menunjukkan name
tag INVITA masing-masing yang mencantumkan nama dan kelasnya.
Sehabis dari loket pengecekan, rombongan murid harus
mengangkat koper/tasnya masing-masing ke lantai atas. Tangganya cukup panjang
dan pegal-pegal. Namun sakitnya tidak terasa karena terkalahkan oleh rasa
antusiasme. Banyak yang bergurau tentang menurunkan berat badan setelah naik
tangga itu saat sudah hampir sampai lantai atas.
Setelah sampai di lanti atas, kami disambut oleh kereta
yang akan kami naiki, Argo Lawu yang telah berdiri dengan megah diatas rel.
Kami langsung masuk ke gerbong masing-masing. Jumlah gerbong yang dipakai oleh
SMP Labschool Jakarta adalah 6, gerbong diatur berdasarkan kelas dan absen,
jadi di satu gerbong ada murid dari kelas lain juga.
Kereta Argo Lawu sangatlah dingin, dinginnya sudah
membuat menggigil dari pertama kali masuk. Kami duduk di kursi yang ditentukan
berdasarkan absen dan menaruh koper dan barang bawaan kami di tempat penyimpanan
barang diatas kursi. Banyak murid yang akan bertukar tempat duduk karena memang
dibolehkan asal masih satu gerbong, tetapi kami harus tetap duduk di tempat
duduk asal kami sampai tiket kami di cek dan dibolongi oleh petugas kereta api.
Kereta mulai melaju diatas rel layang.
Sambil menunggu petugas kereta api, murid dibagikan
makanan kotak. Kursi kereta Argo Lawu dilengkapi dengan meja yang bisa dilipat
kedalam sandaran tangan sehingga memudahkan kami untuk makan. Makanan kotak
yang sudah biasa di lidah kami pun terasa begitu spesial karena atmosfir yang
mengasyikkan.
Setelah menunggu lumayan lama, petugas kereta akhirnya
datang ke gerbong kami. Karena sudah lama menunggu, semuanya sudah selesai
makan bahkan ada yang hampir ketiduran. Setelah petugas kereta selesai
membolongi semua tiket kami, banyak yang pindah ke kursi lain yang mereka
inginkan.
Malam sudah semakin larut namun itu belum menyapu bersih
suasana yang membuat euforia itu. Mata-mata yang mengantuk belum terpejam,
malah hanya terdengar canda tawa yang tidak pelan. Susah untuk mengejapkan mata, karena pasti
akan terbuka lagi mendengar gurauan renyah yang terlontar dari mulut rombongan
murid.
HARI
KEDUA – KUNJUNGAN KE PT.SRITEX, PT AIR MANCUR DAN MUSEUM DIRGANTARA
Walaupun
begitu, akhirnya sekitar pukul 12.00 dini hari, banyak mata yang mulai
tertutup, dan lebih banyak lagi yang sudah terbawa ke alam mimpi. Kereta Argo
Lawu yang tadinya bising oleh tawa sekarang menjadi sunyi kembali.
Pagi hari datang. Pukul 03.00 pagi kereta Argo Lawu
kembali hidup. Murid-murid mulai terbangun. Ada yang sholat subuh, ada yang
melihat pemandangan sekitar dan ada juga yang terpaku kepada gadget-nya.
Semakin dekat kereta dengan stasiun Solo
Balapan (stasiun tujuan akhir), semakin ramai kereta jadinya. Banyak mulai yang
sudah mulai menurunkan kopernya dan merapikan barang-barangnya dari pukul
04.00. Murid yang tertidur kembali juga sudah mulai dibangunkan. Kami semua
merasa sangat bersemangat. Bahkan ada yang sudah berdiri dari kursinya dari pukul
empat sampai kereta sampai.
Pukul
05.00, kereta Argo Lawu sampai di stasiun Solo Balapan. Semuanya yang telah
bersiap-siap dari satu jam sebelumnya langsung keluar dengan agak berdesakkan
karena semuanya keluar dari pintu depan.
Setelah
semuanya keluar dari gerbong masing-masing, kami menuruni tangga lagi membawa
koper dan barang-barang kami ke lantai dasar. Kali ini terasa lebih ringan
karena kali ini menuruni tanngga. Singkatnya, kami langsung keluar stasiun Solo
Balapan.
Diluar
stasiun sangat gelap karena baru pukul lima. Suasana di solo terkesan sangat
berbeda dengan Jakarta yang sudah padat sejak pagi sekali. Walaupun tidak 100%
berbeda, semuanya merasakan lingkungan yang sangat baru walaupun kebanyakan
dari mereka masih sangat mengantuk.
Dengan
dibimbing wali kelas masing-masing, rombongan murid masuk ke dalam bus yang
diatur berdasarkan kelas. Di dalam bus, kami disambut oleh pemandu tour yang menyambut kami dengan ramah
dan menjelaskan beberapa hal tentang Solo. Gaya bicaranya khas dengan logat
jawa membuatnya enak didengar, namun karena banyak murid yang tidak mendapatkan
tidur yang cukup, sedikit yang menyimak penjelasan pemandu sementara yang lain
tertidur dengan pulas.
Pukul
05.30 rombongan murid sampai di rumah makan Tamansari untuk makan dan berganti
pakaian. Sebenarnya rombongan murid dihimbau untuk mandi, tetapi karena
semuanya masih kelelahan semuanya hanya berganti baju menjadi batik sekolah.
Rumah makannya sendiri berbentuk seperti buffet
atau mengambil makanan sendiri di meja yang tersedia. Makanan disana sangat
lezat dan semua murid tampak menikmatinya. Setelah semua selesai makan dan
ganti pakaian yaitu sekitar pukul 08.00, rombongan masuk ke dalam bus dan
kembali melanjutkan perjalanan.
Rombongan
murid sampai di objek kunjungan pertama, yaitu PT.Sritex yang merupakan
kepanjangan dari Sri Rejeki Isman. Rombongan dikumpulkan di aula
PT.Sritex dan mendengarkan penjelasan tentang sejarah PT.Sritex. Setelah itu
Rombongan murid juga mengunjungi outlet PT.Sritex
PT Sritex menjadi pabrik tekstil
terpadu dengan mesin paling modern. Dibalik semangat tinggi untuk
inovasi, terdapat sebuah perjalanan panjang. Sritex dimulai sebagai
sebuah perusahaan perdagangan yakni "Sri Redjeki" yang didirikan
pada 1966 di pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah, Indonesia.
Perusahaan perdagangan kecil ini diperluas, dengan
memproduksi kain yang dikelantang dan dicelup dalam pabrik pertama
di Baturono 81A, Solo pada tahun 1968. Perusahaan ini terdaftar di
Departemen Perindustrian Jawa Tengah pada 30 Agustus 1974 dan kemudian
muncul dari U.D. (Usaha Dagang - Trading Company) ke sebuah PT
(Perseroan Terbatas-Limited Company) berdasarkan Akta Notaris No.48
22 Mei 1978. Perusahaan telah secara resmi berubah nama menjadi PT Sri
Rejeki Isman di 16 Oktober 1978.
PT Sri Rejeki Isman kemudian memperluas pabrik untuk
memintal dan menenun pada tanggal 8 Mei 1982. Pendiri PT.Sritex, H.M. Lukminto,
berhasilmenjalankan Sritex menjadi terintegrasi secara vertikal Textil danGarment yang terdiri
dari 4 unit pemintalan (Spinning), 5 unit penenunan (Weaving), 3
unit pencetakan-pencelupan (Dyeing Printing), dan 6 unit garment. Untuk
menjalankan semua itu, PT Sri Rejeki Isman terletak di beberapa properti di
area lebih dari 100 hektar dan mempekerjakan sekitar 13,500 orang.
Prestasi Sritex tidak hanya mencakup aspek bisnis. Sritex
telah empat kali diberikan oleh MURI (Museum Rekor Indonesia). Pada tahun
1995 Sritexmembuat rekor baru mengadakan upacara bendera yang
diikuti paling banyak peserta. Pada tahun 2007 Sritex dibuat 3
penghargaan MURI sebagai perusahaan yang:
- Mempunyai desain lebih dari
3000 motif kain
- Memproduksi seragam militer untuk 16
negara
- Paling banyak
mengadakan upacara rutin dalam setahun, setiap tanggal 17 Agustus
Setelah menyelesaikan
kunjungan di PT.Sritex, rombongan murid
melanjutkan perjalanan mereka ke destinasi berikutnya, yaitu PT. Air Mancur. Perusahaan Jamu Air Mancur pertama kali didirikan oleh L.W.
Santoso, Rudi Hendrotanojo, dan Kimun Ongkosandjojo pada tanggal 23 Maret 1963
yang berlokasi di sebuah rumah sewa, tepatnya di kampung Pucang Sawit,
Surakarta dengan jumlah karyawan 11 orang.
Peralatan yang digunakan masih sangat sederhana dan hampir semua
proses dikerjakan secara manual. Perusahaan ini pada mulanya tidak dikenal sama
sekali, karena perusahaan ini didirikan atas modal yang sangat minim, disamping
itu juga belum tersedianya alat-alat yang modern untuk mengolah ataupun membuat
jamu dari bahan alami.
Dengan keuletan dan didukung dengan keterampilan serta ketekunan,
maka perusahaan ini dapat memperluas usahanya dengan menyewa mesin giling
beserta tempatnya yang terletak di sebuah gudang seng, di desa Cubluk,
Wonogiri. Perusahaan jamu ini terus mengalami peningkatan dan kemajuan yang
sangat berarti, maka pada tanggal 23 Desember 1963 dibentuklah sebuah
perusahaan yang berstatus perseroan terbatas (PT) dengan nama PT. Jamu Air
Mancur. Akhirnya pada tanggal 1 Januari 1964 segala pusat usaha di Surakarta
dipindahkan ke Wonogiri.
Pada tahun 1966 muncul pemberontakan PKI yang hampir saja
melumpuhkan usaha PT. Jamu Air Mancur, namun akhirnya L.W. Santoso sebagai
pimpinan perusahaan dapat menyelamatkan usaha tersebut dari kehancuran dan
bahkan pada tanggal 1969 mampu mengembangkan perusahaan ini dengan membuat
perusahaan baru termegah saat itu di jalan Palem 51 Wonogiri, dari tahun ke
tahun perusahaan ini mengalami peningkatan jumlah karyawan.
Selain dengan peningkatan jumlah karyawan dari tahun ke tahun,
maka pada tanggal 1973 dimulailah perlusan pabrik di desa Tegal Rejo, Dagen,
Jaten, Palur Kabupaten Karanganyar. Karena mendesaknya keperluan kerja maka
pada tanggal 24 Februari 1974 Bapak L.W. Santoso meresmikan pabrik di Palur
Karanganyar.
Karena terus meningkatnya jumlah permintaan dari konsumen akan
produk jamu tersebuat, maka pada tahun 1976 dibuatlah pabrik baru di desa
Jajar, Kleco, Surakarta. Pabrik tersebut disediakan untuk kegiatan logistik dan
laboratorium pembantu PT. Jamu Air Mancur Palur Solo.
Dan sampai saat ini PT. Jamu Air Mancur memiliki 5 unit kerja
yaitu : 1. Unit kerja Palur, terletak di desa Tegalrejo, Kecamatan jaten,
Kabupaten Karanganyar. Unit ini memproduksi jamu serbuk dan obat luar dalam
bentuk padat sekaligus sebagai kantor pusat. 2. Unit kerja Jetis, terletak di
Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar. Unit ini memproduksi kosmetik. 3. Unit
kerja Klampisan, terletak di Kecamatan Giriwono, Kabupaten Wonogiri. Unit ini
digunakan untuk pengolahan jamu ekstrak. 4. Unit kerja Pelem, terletak di
Kabupaten Wonogiri. Unit ini mengolah makanan, minuman dan madu. 5. Unit kerja
Celep, terletak di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar. Unit ini adalah unit
proses pengemasan jamu serbuk dan obat luar dalam bentuk padat.
Di PT. Air Mancur (lebih tepatnya pabrik madurasa) rombongan murid
dipandu untuk melihat berbagai ruangan di pabrik madurasa, diantaranya ruangan
penyimpanan, ruangan pengemasan dan ruang pencampuran madu dengan perisa buah.
Tidak semua ruangan ditunjukkan karena bertentangan dengan peraturan.
Di ruangan penyimpanan produk, terdapat banyak dus-dus yang berisi
madurasa yang siap dipasarkan. Ruangannya sendiri sangat luas. Dus-dus disusun
sedemikian rupa sehingga membentuk gang-gang yang memudahkan orang untuk lewat.
Sedangkan di ruang pengemasan proses memasukkan produk kedalam
kotak dilakukan dengan semi-manual atau dengan tangan dan bantuan mesin.
Sedangkan pelabelan madu botolan dilakukan dengan manual.
Rombongan murid hanya dibolehkan untuk melihat ruang pencampuran
madu dengan perisa buah karena bertentangan dengan peraturan. Dari luar,
terlihat ada tabung besar sebagai wadah madu dan mesin pencampur yang besar.
Setelah menyelesaikan kunjungan pabrik PT.Air Mancur, murid diberikan
buah tangan dari PT.Air Mancur berupa produk madurasa dan jamu-jamuan lain. Para murid juga diberikan makanan
ringan sebagai pengganjal perut. Karena azan dzuhur telah berkumandang,
murid-murid yang beragama islam melaksanakan sholat dahulu di musholla yang
berada di area pabrik madurasa.
Kunjungan di PT.Air Mancur telah selesai dan murid-murid kembali
ke bus masing-masing dan melanjutkan perjalanan ke wisata kaos yang berada di
Yogyakarta. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam. Di bus disediakan makan
siang berupa nasi kotak yang disiapkan di rumah makan Tamansari.
Rombongan pun sampai di
Jogja Tshirt, yaitu wisata kaos terbesar di Yogyakarta. Bangunannya berbentuk
seperti rumah tingkat yang disulap menjadi factory
outlet yang terlihat apik. Saat pertama kali masuk, murid-murid disambut
oleh pemandangan tempat penyablonan kaos. Di jogja Tshirt ini mereka membuat
desain, menyablon dan memasarkan produk mereka sendiri di bangunan sederhana
itu. Setelah dari tempat penyablonan, kami naik ke lantai atas untuk
melihat-lihat koleksi kaos Jogja Tshirt. Harganya yang sangat terjangkau dan
desainnya yang unik membuat beberapa murid tertarik untuk membelinya. Setelah
semuanya selesai melihat dan membeli kaos, semuanya masuk kedalam bus dan
meninggalkan lokasi Jogja Tshirt.
Pada pukul
17.00 murid-murid sampai di kawasan malioboro. Kami diberikan waktu 2
jam untuk berkeliling dan berbelanja. Malioboro sudah terkenal sampai
mancanegara ini tidak hanya terkenal karena produk-produknya yang
Dalam bahasa Sansekerta, kata “malioboro” bermakna
karangan bunga. itu mungkin ada hubungannya dengan masa lalu ketika Keraton
mengadakan acara besar maka jalan malioboro akan dipenuhi dengan bunga. Kata
malioboro juga berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang bernama
“Marlborough” yang pernah tinggal disana pada tahun 1811-1816 M. pendirian
jalan malioboro bertepatan dengan pendirian keraton Yogyakarta (Kediaman
Sultan).
Perwujudan awal yang merupakan bagian dari konsep kota
di Jawa, Jalan malioboro ditata sebagai sumbu imaginer utara-selatan yang
berkorelasi dengan Keraton ke Gunung merapi di bagian utara dan laut Selatan
sebagai simbol supranatural. Di era kolonial (1790-1945) pola perkotaan itu
terganggu oleh Belanda yang membangun benteng Vredeburg (1790) di ujung selatan
jalan Malioboro. Selain membangun benteng belanda juga membangun Dutch
Club (1822), the Dutch Governor’s Residence (1830), Java Bank dan kantor
Pos untuk mempertahankan dominasi mereka di Yogyakarta. Perkembangan pesat terjadi
pada masa itu yang disebabkan oleh perdaganagan antara orang belanda dengan
orang cina. Dan juga disebabkan adanya pembagian tanah di sub-segmen Jalan
Malioboro oleh Sultan kepada masyarakat cina dan kemudian dikenal sebagagai
Distrik Cina.
Perkembangan pada
masa itu didominasi oleh Belanda dalam membangun fasilitas untuk meningkatkan
perekonomian dan kekuatan mereka, Seperti pembangunan stasiun utama (1887)
di Jalan Malioboro, yang secara fisik berhasil membagi jalan menjadi dua
bagian. Sementara itu, jalan Malioboro memiliki peranan penting di era
kemerdekaan (pasca-1945), sebagai orang-orang Indonesia berjuang untuk membela
kemerdekaan mereka dalam pertempuran yang terjadi Utara-Selatan sepanjang
jalan.
Sekarang ini merupakan jalan pusat kawasan
wisatawan terbesar di Yogyakarta, dengan sejarah arsitektur kolonial Belanda
yang dicampur dengan kawasan komersial Cina dan kontemporer. Trotoar di kedua sisi jalan penuh
sesak dengan warung-warung kecil yang menjual berbagai macam barang dagangan. Di malam hari beberapa restoran
terbuka, disebut lesehan, beroperasi sepanjang jalan. Jalan itu selama bertahun-tahun
menjadi jalan dua arah, tetapi pada 1980-an telah menjadi salah satu arah saja,
dari jalur kereta api ke selatan sampai Pasar Beringharjo. Hotel jaman Belanda terbesar dan
tertua jaman itu, Hotel Garuda, terletak di ujung utara jalan di sisi Timur,
berdekatan dengan jalur kereta api.Juga terdapat rumah kompleks bekas era
Belanda, Perdana Menteri, kepatihan yang kini telah menjadi kantor pemerintah
provinsi.
Malioboro juga menjadi sejarah perkembangan seni
sastra Indonesia. Dalam Antologi Puisi Indonesia di Yogyakarta 1945-2000
memberi judul “MALIOBORO” untuk buku tersebut, buku yang berisi 110 penyair
yang pernah tinggal di yogyakarta selama kurun waktu lebih dari setengah
abad. Pada tahun 1970-an, Malioboro tumbuh menjadi pusat dinamika seni
budaya Jogjakarta. Jalan Malioboro menjadi ‘panggung’ bagi para “seniman
jalanan” dengan pusatnya gedung Senisono. Namun daya hidup seni jalanan ini
akhirnya terhenti pada 1990-an setelah gedung Senisono ditutup.






0 komentar:
Posting Komentar