Senin, 16 Januari 2017

RESOLUSI TAHUN 2017

Tidak terasa, sudah 365 hari berlalu di tahun 2016. Kebanyakan orang pun telah menunggu kedatangan tahun baru.

Banyak juga orang yang membuat resolusi tahun baru. Pendukung semangat baru, katanya. Tapi menurut saya, resolusi bisa dibuat kapan saja dan tidak harus pada tahun baru. Meskipun begitu, tahun baru memang bisa menjadi pendongkrak semangat untuk mencapai cita-cita dan impian.

Resolusi tidak hanya harus mencakup hal-hal dan pencapaian yang besar, bisa saja anda hanya berharap untuk mendapatkan topi baru, atau untuk membaca buku lebih sering.

Dan kali ini, saya akan membagikan resolusi tahun baru saya, semoga bisa menginspirasi para pembaca.

1. Belajar lebih giat
2. Menyelesaikan menulis sebuah buku
3. Membaca paling tidak 10 novel
4. Olahraga lebih giat
5. Makan lebih sehat
6. Jadwal tidur lebih teratur
7. Mencatat semua catatan pelajaran
8. Lebih sedikit dalam memakai gadget
9. Lebih banyak menggambar
10. Lebih menekuni hobi
11. Mengembangkan produktifitas
12. Mencoba mewarnai rambut
13. Mendengarkan lebih banyak musik dari musisi baru
14. Masuk 10 besar dalam ranking
15. Nem UN melebihi target
16. Bisa masuk sma 81/negeri unggul
17. Bisa mendapatkan nilai yang bagus di ujian sekolah
18. Menyelesaikan hafalan jus 30
19. Tidak malas menyampul buku
20. Menurunkan berat badan melebihi target
21. Bisa meninggikan badan
22. Tidak menghilangkan alat tulis selama setahun
23. Membeli alat tulis yang bagus
24. Menghias binder dengan bagus
25. Mengembangkan follower di sosial media
26. Mendapatkan perhatian atas karya seni yang saya buat
27. Membuat banyak orang bahagia
28. Membuat banyak teman dunia maya dan diluar dunia maya
29. Lebih banyak introspeksi diri
30. Menjadi orang yang lebih baik

Sekian adalah sebagian kecil dari puluhan bahkan ratusan resolusi tahun baru saya. Bermimpilah setinggi-tingginya dan bekerja keraslah untuk mencapai resolusi anda.

Kamis, 11 Agustus 2016

Home

What is home?
Most people would probably think about a shelter to rest or a roof to sleep under. Most people would think it would be made out of concrete or wood. Most people would think it would be as big as a castle or enough for one to rest in it.
Most people picture home as structured walls or a place for one to be lost in their dreams. When it really is something that makes you feel comfortable. Or what they call, the feeling of being home. Something that makes you feel safe. Something that makes you feel like you belong when you never feel like that anywhere else.
A home does not have to be a place for you to rest, it doesn't even have to be a place. A home doesn't have to be made out of concrete or wood, it can be made out of your own toughts. A home doesn't  have to be big, you dont necessarily need be able to fit inside of your home. You can just feel it surrounds you. The size does not matter.
A home is different to everyone. A home to someone really describes alot about one's everything. What i precieve as home is music and doing art.
When i feel like i won't belong, unsafe, anxious, stressed, too lost in my own mind, or holding back something my thinkspan could not contain, i listen to music. Music that describes my emotions with words i have never tought about before, music that flushes away all the negativity. Music has helped me cope with mostly everything troughout my life, and it will always does.
A home would not be complete without a door. Doing art is the door to my home. When i am in an unfamiliar place, and the feeling of lost paralyzed my senses, i usually take my sketchbook and pencil out. I stroked those lines out of my mind, unclogging all the emotions there like draining a bathub.
When i am at home, it feels like the time is frozen still. The clock mounted inside is always broken. I never want to fix it, because the ticking noises makes me anxious and uneasy, knowing that time actually flows as i dump the content of my soul inside my home. The atmosphere feels calming, and fragrant. Like the scent and soft boiling noises of brewing chamomile tea in the morning. The temperature there is not too cold nor too hot, it has got air conditioner in all of the rooms, making me feel comfortable even when im in an extreme weathers.

This is my home, and i could not picture a better one.

Kamis, 04 Agustus 2016

Senin, 09 November 2015

INVITA 2015

HARI PERTAMA – PERJALANAN JAKARTA KE SOLO

            Pada hari rabu, 21 Oktober 2015 rombongan murid kelas 8 SMP Labschool Jakarta sudah mulai berdatanga di pintu utara Stasiun Gambir sejak sekitar pukul 17.00. Rombongan yang sudah datang tidak langsung berkumpul melainkan menunggu murid lainnya datang.
            Pada pukul 18.30 murid-murid yang telah datang semua ke stasiun gambir dibariskan sesuai kelas. Dikarenakan oleh banyaknya murid yang tidak disiplin, proses ini memakan cukup banyak waktu. Wali kelas membagikan tiket kereta api setelah barisan telah rapi. Kami naik kereta Argo Lawu (kelas eksekutif). Lalu kami diberikan pembekalan singkat tentang peraturan di kereta. Rombongan murid juga diberikan waktu untuk sholat, ke kamar mandi dan istirahat sejenak sambil menunggu kereta.
            Menjelang datangnya kereta, yaitu sekitar pukul delapan malam, barisan murid-murid yang sedang menunggu kereta diberdirikan dan berjalan dengan rapi kearah loket pengecekan tiket dan identititas. Ini dimaksudkan agar identititas yang tertera di karcis sesuai dengan data aslinya. Murid-murid disuruh untuk menunjukkan name tag INVITA masing-masing yang mencantumkan nama dan kelasnya.
            Sehabis dari loket pengecekan, rombongan murid harus mengangkat koper/tasnya masing-masing ke lantai atas. Tangganya cukup panjang dan pegal-pegal. Namun sakitnya tidak terasa karena terkalahkan oleh rasa antusiasme. Banyak yang bergurau tentang menurunkan berat badan setelah naik tangga itu saat sudah hampir sampai lantai atas.
            Setelah sampai di lanti atas, kami disambut oleh kereta yang akan kami naiki, Argo Lawu yang telah berdiri dengan megah diatas rel. Kami langsung masuk ke gerbong masing-masing. Jumlah gerbong yang dipakai oleh SMP Labschool Jakarta adalah 6, gerbong diatur berdasarkan kelas dan absen, jadi di satu gerbong ada murid dari kelas lain juga.
            Kereta Argo Lawu sangatlah dingin, dinginnya sudah membuat menggigil dari pertama kali masuk. Kami duduk di kursi yang ditentukan berdasarkan absen dan menaruh koper dan barang bawaan kami di tempat penyimpanan barang diatas kursi. Banyak murid yang akan bertukar tempat duduk karena memang dibolehkan asal masih satu gerbong, tetapi kami harus tetap duduk di tempat duduk asal kami sampai tiket kami di cek dan dibolongi oleh petugas kereta api. Kereta  mulai melaju diatas rel layang.
            Sambil menunggu petugas kereta api, murid dibagikan makanan kotak. Kursi kereta Argo Lawu dilengkapi dengan meja yang bisa dilipat kedalam sandaran tangan sehingga memudahkan kami untuk makan. Makanan kotak yang sudah biasa di lidah kami pun terasa begitu spesial karena atmosfir yang mengasyikkan.
            Setelah menunggu lumayan lama, petugas kereta akhirnya datang ke gerbong kami. Karena sudah lama menunggu, semuanya sudah selesai makan bahkan ada yang hampir ketiduran. Setelah petugas kereta selesai membolongi semua tiket kami, banyak yang pindah ke kursi lain yang mereka inginkan.
            Malam sudah semakin larut namun itu belum menyapu bersih suasana yang membuat euforia itu. Mata-mata yang mengantuk belum terpejam, malah hanya terdengar canda tawa yang tidak pelan.  Susah untuk mengejapkan mata, karena pasti akan terbuka lagi mendengar gurauan renyah yang terlontar dari mulut rombongan murid.
           
HARI KEDUA – KUNJUNGAN KE PT.SRITEX, PT AIR MANCUR DAN MUSEUM DIRGANTARA
Walaupun begitu, akhirnya sekitar pukul 12.00 dini hari, banyak mata yang mulai tertutup, dan lebih banyak lagi yang sudah terbawa ke alam mimpi. Kereta Argo Lawu yang tadinya bising oleh tawa sekarang menjadi sunyi kembali.
            Pagi hari datang. Pukul 03.00 pagi kereta Argo Lawu kembali hidup. Murid-murid mulai terbangun. Ada yang sholat subuh, ada yang melihat pemandangan sekitar dan ada juga yang terpaku kepada gadget-nya.
 Semakin dekat kereta dengan stasiun Solo Balapan (stasiun tujuan akhir), semakin ramai kereta jadinya. Banyak mulai yang sudah mulai menurunkan kopernya dan merapikan barang-barangnya dari pukul 04.00. Murid yang tertidur kembali juga sudah mulai dibangunkan. Kami semua merasa sangat bersemangat. Bahkan ada yang sudah berdiri dari kursinya dari pukul empat sampai kereta sampai.
Pukul 05.00, kereta Argo Lawu sampai di stasiun Solo Balapan. Semuanya yang telah bersiap-siap dari satu jam sebelumnya langsung keluar dengan agak berdesakkan karena semuanya keluar dari pintu depan.
Setelah semuanya keluar dari gerbong masing-masing, kami menuruni tangga lagi membawa koper dan barang-barang kami ke lantai dasar. Kali ini terasa lebih ringan karena kali ini menuruni tanngga. Singkatnya, kami langsung keluar stasiun Solo Balapan.
Diluar stasiun sangat gelap karena baru pukul lima. Suasana di solo terkesan sangat berbeda dengan Jakarta yang sudah padat sejak pagi sekali. Walaupun tidak 100% berbeda, semuanya merasakan lingkungan yang sangat baru walaupun kebanyakan dari mereka masih sangat mengantuk.
Dengan dibimbing wali kelas masing-masing, rombongan murid masuk ke dalam bus yang diatur berdasarkan kelas. Di dalam bus, kami disambut oleh pemandu tour yang menyambut kami dengan ramah dan menjelaskan beberapa hal tentang Solo. Gaya bicaranya khas dengan logat jawa membuatnya enak didengar, namun karena banyak murid yang tidak mendapatkan tidur yang cukup, sedikit yang menyimak penjelasan pemandu sementara yang lain tertidur dengan pulas.
Pukul 05.30 rombongan murid sampai di rumah makan Tamansari untuk makan dan berganti pakaian. Sebenarnya rombongan murid dihimbau untuk mandi, tetapi karena semuanya masih kelelahan semuanya hanya berganti baju menjadi batik sekolah. Rumah makannya sendiri berbentuk seperti buffet atau mengambil makanan sendiri di meja yang tersedia. Makanan disana sangat lezat dan semua murid tampak menikmatinya. Setelah semua selesai makan dan ganti pakaian yaitu sekitar pukul 08.00, rombongan masuk ke dalam bus dan kembali melanjutkan perjalanan.
Rombongan murid sampai di objek kunjungan pertama, yaitu PT.Sritex yang merupakan kepanjangan dari Sri Rejeki Isman. Rombongan dikumpulkan di aula PT.Sritex dan mendengarkan penjelasan tentang sejarah PT.Sritex. Setelah itu Rombongan murid juga mengunjungi outlet PT.Sritex
PT Sritex menjadi pabrik tekstil terpadu dengan  mesin paling modern. Dibalik semangat tinggi untuk inovasi, terdapat sebuah perjalanan panjang. Sritex dimulai sebagai sebuah perusahaan perdagangan yakni "Sri Redjeki" yang didirikan pada 1966 di pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah, Indonesia. 
Perusahaan perdagangan kecil ini diperluas, dengan memproduksi kain yang dikelantang dan dicelup dalam pabrik pertama di Baturono 81A, Solo pada tahun 1968. Perusahaan ini terdaftar di Departemen Perindustrian Jawa Tengah pada 30 Agustus 1974 dan kemudian muncul dari U.D. (Usaha Dagang - Trading Company) ke sebuah PT (Perseroan Terbatas-Limited Company) berdasarkan Akta Notaris No.48 22 Mei 1978. Perusahaan telah secara resmi berubah nama menjadi PT Sri Rejeki Isman di 16 Oktober 1978. 
PT Sri Rejeki Isman kemudian memperluas pabrik untuk memintal dan menenun pada tanggal 8 Mei 1982. Pendiri PT.Sritex, H.M. Lukminto, berhasilmenjalankan Sritex menjadi terintegrasi secara vertikal Textil danGarment yang terdiri dari 4 unit pemintalan (Spinning), 5 unit penenunan (Weaving), 3 unit pencetakan-pencelupan (Dyeing Printing), dan 6 unit garment. Untuk menjalankan semua itu, PT Sri Rejeki Isman terletak di beberapa properti di area lebih dari 100 hektar dan mempekerjakan sekitar 13,500 orang.
Prestasi Sritex tidak hanya mencakup aspek bisnis. Sritex telah empat kali diberikan oleh MURI (Museum Rekor Indonesia). Pada tahun 1995 Sritexmembuat rekor baru mengadakan upacara bendera yang diikuti  paling banyak peserta. Pada tahun 2007 Sritex dibuat 3 penghargaan MURI sebagai perusahaan yang:
-   Mempunyai desain lebih dari 3000 motif kain
-   Memproduksi seragam militer untuk 16 negara 
-   Paling banyak mengadakan  upacara rutin dalam setahun, setiap tanggal 17 Agustus
               
            Setelah menyelesaikan kunjungan di PT.Sritex,  rombongan murid melanjutkan perjalanan mereka ke destinasi berikutnya, yaitu PT. Air Mancur. Perusahaan Jamu Air Mancur pertama kali didirikan oleh L.W. Santoso, Rudi Hendrotanojo, dan Kimun Ongkosandjojo pada tanggal 23 Maret 1963 yang berlokasi di sebuah rumah sewa, tepatnya di kampung Pucang Sawit, Surakarta dengan jumlah karyawan 11 orang.
Peralatan yang digunakan masih sangat sederhana dan hampir semua proses dikerjakan secara manual. Perusahaan ini pada mulanya tidak dikenal sama sekali, karena perusahaan ini didirikan atas modal yang sangat minim, disamping itu juga belum tersedianya alat-alat yang modern untuk mengolah ataupun membuat jamu dari bahan alami. 
Dengan keuletan dan didukung dengan keterampilan serta ketekunan, maka perusahaan ini dapat memperluas usahanya dengan menyewa mesin giling beserta tempatnya yang terletak di sebuah gudang seng, di desa Cubluk, Wonogiri. Perusahaan jamu ini terus mengalami peningkatan dan kemajuan yang sangat berarti, maka pada tanggal 23 Desember 1963 dibentuklah sebuah perusahaan yang berstatus perseroan terbatas (PT) dengan nama PT. Jamu Air Mancur. Akhirnya pada tanggal 1 Januari 1964 segala pusat usaha di Surakarta dipindahkan ke Wonogiri.
Pada tahun 1966 muncul pemberontakan PKI yang hampir saja melumpuhkan usaha PT. Jamu Air Mancur, namun akhirnya L.W. Santoso sebagai pimpinan perusahaan dapat menyelamatkan usaha tersebut dari kehancuran dan bahkan pada tanggal 1969 mampu mengembangkan perusahaan ini dengan membuat perusahaan baru termegah saat itu di jalan Palem 51 Wonogiri, dari tahun ke tahun perusahaan ini mengalami peningkatan jumlah karyawan.
Selain dengan peningkatan jumlah karyawan dari tahun ke tahun, maka pada tanggal 1973 dimulailah perlusan pabrik di desa Tegal Rejo, Dagen, Jaten, Palur Kabupaten Karanganyar. Karena mendesaknya keperluan kerja maka pada tanggal 24 Februari 1974 Bapak L.W. Santoso meresmikan pabrik di Palur Karanganyar.
Karena terus meningkatnya jumlah permintaan dari konsumen akan produk jamu tersebuat, maka pada tahun 1976 dibuatlah pabrik baru di desa Jajar, Kleco, Surakarta. Pabrik tersebut disediakan untuk kegiatan logistik dan laboratorium pembantu PT. Jamu Air Mancur Palur Solo.
Dan sampai saat ini PT. Jamu Air Mancur memiliki 5 unit kerja yaitu : 1. Unit kerja Palur, terletak di desa Tegalrejo, Kecamatan jaten, Kabupaten Karanganyar. Unit ini memproduksi jamu serbuk dan obat luar dalam bentuk padat sekaligus sebagai kantor pusat. 2. Unit kerja Jetis, terletak di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar. Unit ini memproduksi kosmetik. 3. Unit kerja Klampisan, terletak di Kecamatan Giriwono, Kabupaten Wonogiri. Unit ini digunakan untuk pengolahan jamu ekstrak. 4. Unit kerja Pelem, terletak di Kabupaten Wonogiri. Unit ini mengolah makanan, minuman dan madu. 5. Unit kerja Celep, terletak di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar. Unit ini adalah unit proses pengemasan jamu serbuk dan obat luar dalam bentuk padat.
Di PT. Air Mancur (lebih tepatnya pabrik madurasa) rombongan murid dipandu untuk melihat berbagai ruangan di pabrik madurasa, diantaranya ruangan penyimpanan, ruangan pengemasan dan ruang pencampuran madu dengan perisa buah. Tidak semua ruangan ditunjukkan karena bertentangan dengan peraturan.
Di ruangan penyimpanan produk, terdapat banyak dus-dus yang berisi madurasa yang siap dipasarkan. Ruangannya sendiri sangat luas. Dus-dus disusun sedemikian rupa sehingga membentuk gang-gang yang memudahkan orang untuk lewat.
Sedangkan di ruang pengemasan proses memasukkan produk kedalam kotak dilakukan dengan semi-manual atau dengan tangan dan bantuan mesin. Sedangkan pelabelan madu botolan dilakukan dengan manual.
Rombongan murid hanya dibolehkan untuk melihat ruang pencampuran madu dengan perisa buah karena bertentangan dengan peraturan. Dari luar, terlihat ada tabung besar sebagai wadah madu dan mesin pencampur yang besar.
Setelah menyelesaikan kunjungan pabrik PT.Air Mancur, murid diberikan buah tangan dari PT.Air Mancur berupa produk madurasa dan jamu-jamuan  lain. Para murid juga diberikan makanan ringan sebagai pengganjal perut. Karena azan dzuhur telah berkumandang, murid-murid yang beragama islam melaksanakan sholat dahulu di musholla yang berada di area pabrik madurasa.
Kunjungan di PT.Air Mancur telah selesai dan murid-murid kembali ke bus masing-masing dan melanjutkan perjalanan ke wisata kaos yang berada di Yogyakarta. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam. Di bus disediakan makan siang berupa nasi kotak yang disiapkan di rumah makan Tamansari.
 Rombongan pun sampai di Jogja Tshirt, yaitu wisata kaos terbesar di Yogyakarta. Bangunannya berbentuk seperti rumah tingkat yang disulap menjadi factory outlet yang terlihat apik. Saat pertama kali masuk, murid-murid disambut oleh pemandangan tempat penyablonan kaos. Di jogja Tshirt ini mereka membuat desain, menyablon dan memasarkan produk mereka sendiri di bangunan sederhana itu. Setelah dari tempat penyablonan, kami naik ke lantai atas untuk melihat-lihat koleksi kaos Jogja Tshirt. Harganya yang sangat terjangkau dan desainnya yang unik membuat beberapa murid tertarik untuk membelinya. Setelah semuanya selesai melihat dan membeli kaos, semuanya masuk kedalam bus dan meninggalkan lokasi Jogja Tshirt.
            Pada pukul 17.00 murid-murid sampai di kawasan malioboro. Kami diberikan waktu 2 jam untuk berkeliling dan berbelanja. Malioboro sudah terkenal sampai mancanegara ini tidak hanya terkenal karena produk-produknya yang

Dalam bahasa Sansekerta, kata “malioboro” bermakna karangan bunga. itu mungkin ada hubungannya dengan masa lalu ketika Keraton mengadakan acara besar maka jalan malioboro akan dipenuhi dengan bunga. Kata malioboro juga berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang bernama “Marlborough” yang pernah tinggal disana pada tahun 1811-1816 M. pendirian jalan malioboro bertepatan dengan pendirian keraton Yogyakarta (Kediaman Sultan).
Perwujudan awal yang merupakan bagian dari konsep kota di Jawa, Jalan malioboro ditata sebagai sumbu imaginer utara-selatan yang berkorelasi dengan Keraton ke Gunung merapi di bagian utara dan laut Selatan sebagai simbol supranatural. Di era kolonial (1790-1945) pola perkotaan itu terganggu oleh Belanda yang membangun benteng Vredeburg (1790) di ujung selatan jalan Malioboro. Selain membangun benteng belanda juga membangun Dutch Club (1822), the Dutch Governor’s Residence (1830), Java Bank dan kantor Pos untuk mempertahankan dominasi mereka di Yogyakarta. Perkembangan pesat terjadi pada masa itu yang disebabkan oleh perdaganagan antara orang belanda dengan orang cina. Dan juga disebabkan adanya pembagian tanah di sub-segmen Jalan Malioboro oleh Sultan kepada masyarakat cina dan kemudian dikenal sebagagai Distrik Cina.
Perkembangan pada masa itu didominasi oleh Belanda dalam membangun fasilitas untuk meningkatkan perekonomian dan kekuatan mereka, Seperti pembangunan stasiun utama (1887) di Jalan Malioboro, yang secara fisik berhasil membagi jalan menjadi dua bagian. Sementara itu, jalan Malioboro memiliki peranan penting di era kemerdekaan (pasca-1945), sebagai orang-orang Indonesia berjuang untuk membela kemerdekaan mereka dalam pertempuran yang terjadi Utara-Selatan sepanjang jalan.

Sekarang ini merupakan jalan pusat kawasan wisatawan terbesar di Yogyakarta, dengan sejarah arsitektur kolonial Belanda yang dicampur dengan kawasan komersial Cina dan kontemporer. Trotoar di kedua sisi jalan penuh sesak dengan warung-warung kecil yang menjual berbagai macam barang dagangan. Di malam hari beberapa restoran terbuka, disebut lesehan, beroperasi sepanjang jalan. Jalan itu selama bertahun-tahun menjadi jalan dua arah, tetapi pada 1980-an telah menjadi salah satu arah saja, dari jalur kereta api ke selatan sampai Pasar Beringharjo. Hotel jaman Belanda terbesar dan tertua jaman itu, Hotel Garuda, terletak di ujung utara jalan di sisi Timur, berdekatan dengan jalur kereta api.Juga terdapat rumah kompleks bekas era Belanda, Perdana Menteri, kepatihan yang kini telah menjadi kantor pemerintah provinsi.

Malioboro juga menjadi sejarah perkembangan seni sastra Indonesia. Dalam Antologi Puisi Indonesia di Yogyakarta 1945-2000 memberi judul “MALIOBORO” untuk buku tersebut, buku yang berisi 110 penyair yang pernah tinggal di yogyakarta selama kurun waktu lebih dari setengah abad. Pada tahun 1970-an, Malioboro tumbuh menjadi pusat dinamika seni budaya Jogjakarta. Jalan Malioboro menjadi ‘panggung’ bagi para “seniman jalanan” dengan pusatnya gedung Senisono. Namun daya hidup seni jalanan ini akhirnya terhenti pada 1990-an setelah gedung Senisono ditutup.